Tampilkan postingan dengan label HIV/AIDS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HIV/AIDS. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 September 2010

Dampak HIV/AIDS

AIDS ( Acquired Immune Deficiency Syndrome) merupakan suatu penyakit yang cara kerjanya menghancurkan sistem kekebalan tubuh manusia. AIDS disebabkan karena virus yang bernama HIV (Human Immunodeficiency Virus) masuk ke dalam tubuh manusia. HIV dengan cepat akan melumpuhkan sistem kekebalan manusia. Setelah sistem kekebalan tubuh lumpuh, seseorang penderita AIDS biasanya akan meninggal karena suatu penyakit (disebut penyakit sekunder) yang biasanya akan dapat dibasmi oleh tubuh seandainya sistem kekebalan itu masih baik. AIDS adalah penyakit yang paling ditakuti pada saat ini. Virus HIV yang menyebabkan penyakit ini, merusak sistem pertahanan tubuh (sistem imun), sehingga orang-orang yang menderita penyakit ini kemampuan untuk mempertahankan dirinya dari serangan penyakit menjadi berkurang. Seseorang yang positif mengidap HIV, belum tentu mengidap AIDS. Banyak kasus di mana seseorang positif mengidap HIV, tetapi tidak menjadi sakit dalam jangka waktu yang lama. Namun, HIV yang ada pada tubuh seseorang akan terus merusak sistem imun. Akibatnya, virus, jamur dan bakteri yang biasanya tidak berbahaya menjadi sangat berbahaya karena rusaknya sistem imun tubuh.

Dari survey orang dalam 20 tahun terakhir terinfeksi lebih dari 60 juta Virus HIV. Dari jumlah itu, 20 juta orang meninggal karena Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS). Tahun 2001, UNAIDS (United Nations Joint Program on HIV atau AIDS) memperkirakan, jumlah Orang Hidup Dengan HIV atau AIDS (ODHA) 40 juta. Kasus AIDS pertama kali ditemukan di Amerika Serikat, pada 1981, tetapi kasus tersebut hanya sedikit memberi informasi tentang sumber penyakit ini. Sekarang ada bukti jelas bahwa AIDS disebabkan oleh virus yang dikenal dengan HIV. HIV merupakan bagian dari kelompok virus yang disebut Lentivirus yang ditemukan pada primata nonmanusia. 

Secara kolektif, Lentivirus diketahui sebagai virus monyet yang dikenal dengan nama Simian Immunodeficiency Virus (SIV). HIV merupakan keturunan dari SIV. Jenis SIV tertentu mirip dengan dua tipe HIV, yakni HIV- 1 dan HIV-2, yang menyerang salah satu sel dari darah putih yaitu sel limfosit. Di Indonesia, kasus AIDS pertama kali ditemukan pada tahun 1987. Seorang wisatawan berusia 44 tahun asal Belanda meninggal di Rumah Sakit Sanglah, Bali. Kematian lelaki asing itu disebabkan AIDS. Hingga akhir tahun 1987, ada enam orang yang didiagnosis HIV positif, dua di antara mereka mengidap AIDS. Sejak 1987 hingga Desember 2001, dari 671 pengidap AIDS, sebanyak 280 orang meninggal. HIV begitu cepat menyebar ke seluruh dunia. Ibarat fenomena gunung es di lautan, penderita HIV atau AIDS hanya terlihat sedikit di permukaan. 


Penularan HIV atau AIDS

AIDS adalah salah satu penyakit yang menular. Namun penularannya tak semudah seperti virus influenza atau virus-virus lainnya. Virus HIV dapat hidup di seluruh cairan tubuh manusia, akan tetapi yang mempunyai kemampuan untuk menularkan kepada orang lain hanya HIV yang berada dalam: darah, cairan vagina dan sperma.penularan HIV atau AIDS yang diketahui adalah melalui:
  1. Transfusi darah dari pengidap HIV.
  2. Berhubungan seks dengan pengidap HIV.
  3. Sebagian kecil (25-30%) ibu hamil pengidap HIV kepada janinnya.
  4. Alat suntik atau jarum suntik/alat tatoo/tindik yang dipakai bersama dengan penderita HIV atau AIDS; serta
  5. Air susu ibu pengidap AIDS kepada anak susuannya.

Tindakan untuk mencegah HIV atau AIDS

Cara mencegah masuknya suatu penyakit secara umum di antaranya dengan membiasakan hidup sehat, yaitu mengkonsumsi makanan sehat, berolah raga, dan melakukan pergaulan yang sehat. Beberapa tindakan untuk menghindari dari HIV atau AIDS antara lain:
  1. Hindarkan hubungan seksual diluar nikah dan usahakan hanya berhubungan dengan satu pasangan seksual.
  2. Pergunakan selalu kondom, terutama bagi kelompok perilaku resiko tinggi.
  3. Seorang ibu yang darahnya telah diperiksa dan ternyata positif HIV sebaiknya jangan hamil, karena bisa memindahkan virusnya kepada janin yang dikandungnya. Akan bila berkeinginan hamil hendaknya selalu berkonsultasi dengan dokter.
  4. Orang-orang yang tergolong pada kelompok perilaku resiko tinggi hendaknya tidak menjadi donor darah.
  5. Penggunaan jarum suntik dan alat tusuk lainnya seperti; akupunktur, jarum tatto, jarum tindik, hendaknya hanya sekali pakai dan harus terjamin sterilitasnya.
  6. Jauhi narkoba, karena sudah terbukti bahwa penyebaran HIV atau AIDS di kalangan panasun (pengguna narkoba suntik) 3-5 kali lebih cepat dibanding perilaku risiko lainnya. Di Kampung Bali Jakarta 9 dari 10 penasun positif HIV.

Persepsi Salah Tentang HIV atau AIDS

AIDS adalah penyakit yang disebabkan oleh virus HIV yang sampai sekarang belum ditemukan obat dan vaksinnya yang benar-benar bermanfaat untuk mengatasi AIDS. Itulah sebabnya AIDS merupakan salah satu penyakit yang paling ditakuti pada saat ini. Munculnya anggapan yang salah terhadap tindakan dan prilaku sehubungan dengan HIV atau AIDS semakin mengukuhkan penyakit ini untuk ditakuti.

Oleh sebab itu perlu diketahui bahwa HIV atau AIDS tidak menular melalui:
  1. Bekerja bersama orang yang terkena infeksi HIV.
  2. Gigitan nyamuk atau serangga lain.
  3. Sentuhan tangan atau saling pelukan.
  4. Hubungan Seks dengan menggunakan kondom.
  5. Penggunaan alat makan bersama.
  6. Penggunaan toilet bersama.
  7. Semprotan bersin atau batuk

Penemuan Vaksin HIV

Peneliti di bidang medis telah menemukan celah pada perubahan yang konstan dari struktur virus HIV. Penemuan ini tentu saja merupakan langkah yang sangat signifikan dalam rangka pencarian vaksin HIV AIDS.Virus AIDS menghindar dari serangan sistem imun karena sebagian besar protein yang membungkus virus tersebut secara terus-menerus mengubah strukturnya. Akan tetapi, para peneliti telah mengindetifikasi sisi pada protein tersebut yang tidak mengalami perubahan, serta menunjukkan bagaimana suatu antibodi dapat berikatan dengan sisi tersebut. Apabila badan kita dapat distimulasi untuk menghasilkan kopi dari antibodi tersebut sebelum infeksi, maka secara teori, antibody tersebut dapat menyerang virus yang sangat berbahaya ini serta mencegah infeksi.

Peter Kwong, peneliti US National Institute of Allergy and Infectious Diseases in Bethesda, Maryland mengatakan bahwa “selama beberapa lama orang bertanya-tanya apakah memungkinkan untuk membuat suatu vaksin HIV? Dengan penemuan ini, dapat dikatakan bahwa hal tersebut bukan lagi hanya mimpi – tapi inilah sisi yang sangat mungkin diserang”.

Penemuan ini berkisar pada sisi protein HIV yang disebut gp120. Selama infeksi, gp120 memblok kerja protein pada sistem imun manusia yang disebut protein CD4. Dikarenakan hal ini merupakan tahap yang sangat penting pada siklus replikasi virus, maka sisi kunci pada gp120 tidak mengalami perubahan konformasi, tidak seperti proten lainnya yang ditemukan pada permukaan virus HIV.

Selama kurun waktu setahun belakangan ini, para peneliti vaksin telah mengetahui proses tersebut, akan tetapi masih banyak sekali batu sandungan yang harus dihadapi. Sebelumnya mereka mengira bahwa sisi pengikatan antibodi tersembunyi di dalam pelipatan protein gp120 sampai terjadi infeksi. Dengan demikian diduga bahwa proses “masking” ini akan membuat antibodi tersebut tidak dapat mengenali bagian dari protein yang tidak mengalami perubahan untuk kemudian mengikatnya.

Tim peneliti yang dipimpin oleh Kwong menunjukkan bahwa masalahnya bukan itu. Bagian kunci dari gp120 tidak pernah tersembunyi, mereka menemukan bahwa struktur protein tersebut tidak berubah sampai gp120 berikatan dengan CD4. Hal ini berarti bahwa sisi pengikatan tersebut tetap dari antibodi sama sekali. Tim ini akhirnya berhasil memproduks antibodi yang disebut b12 yang akan mengikat gp120, dan telah mempelajari bagaimana kedua struktur molekul ini saling berikatan.

Produksi massal

Antibodi b12 telah diketahui dapat melidungi monyet dari infeksi sejenis simian immunodeficiency virus. Tantangan yang dihadapi sekarang adalah bagaimana menemukan cara agar badan manusia dapat memproduksi antibodi b12 dalam jumlah banyak. Kwong mengatakan bahwa hal ini diatasi dengan mencari protein atau DNA yang dapat memberikan informasi pada tubuh manusia untuk memproduksi b12, atau menstimulasi badan manusia dengan bagian protein HIV gp120 untuk menghasilkan antibodinya.

Beberapa orang yang terinfeksi HIV mengembangkan antibodi yang serupa. Akan tetapi, karena badan mereka telah terdedah pada virus, maka pencegahan infeksi permanen menjadi terlambat. Dengan demikian, vaksin ini hanya akan bekerja apabila diberikan sebelum infeksi. Menurut Kwong, “pertanyaannya adalah apakah obat tersebut dapat dikembangkan untuk menghasilkan antibody pada seseorang yang tidak pernah diserang virus tersebut?” Sampai saat ini, para peniliti sedang merancang uji pada hewan untuk mengetahui seberapa banyak antibodi ini dapat dihasilkan.

Sumber:Nature

Virus Hiv Menyerang Dua Tipe Sel Pada Wanita Secara Simultan

Para peneliti telah mengembangkan metode yang lebih baik untuk memahami bagaimana virus HIV masuk ke dalam tubuh wanita saat melakukan hubungan seks. Penemuan ini diharapkan dapat melindungi para wanita yang lebih rentan terserang virus HIV dibandingkan dengan laki-laki saat melakukan hubungan seks vaginal.
Penemuan tim peneliti AS menunjukkan bahwa HIV menyerang dua tipe sel pada kulit vagina manusia. Dengan penemuan ini diharapkan menjadi terobosan besar bagi para ilmuwan untuk menciptakan obat melawan infeksi virus tersebut. Tim riset yang dipimpin oleh Julie McElrath (University of Washington, Seattle) ingin mengetahui sebenarnya apa yang terjadi ketika wanita terkena virus HIV saat melakukan hubungan seks, cara yang paling umum untuk wanita kontak dengan virus.



Kulit vagina merupakan barier (pelindung) pertama terhadap virus HIV. Florian Hladik (University of Washington) juga mengamati kulit vagina dengan menggunakan perlakuan kimiawi untuk memisahkan lapisan terluar vagina dari jaringan dasarnya. Lapisan ini kemudian didedahkan pada virus HIV yang yang terlebih dahulu diberi penanda warna. Hal ini digunakan untuk melihat sel manakah yang dinfeksi oleh virus.

Dua Tipe Sel Sekaligus

Dalam waktu dua jam, HIV menyerang sel imun yang dikenal dengan CD4 + Sel T dan menginfeksi hampir setengah dari jumlah sel tersebut. Pada saat bersamaan, virus tersebut juga menginfeksi sel-sel lain yang terlibat dalam sistem imun seperti sel-sel Langerhans, akan tetapi mekanisme infeksi virus pada sel-sel ini masih belum diketahui dengan pasti. Penemuan ini sangat penting karena selama ini para ilmuwan tidak yakin apakah HIV langsung atau tidak menginfeksi CD4 + sel T di dalam vagina. Ron Veazey, ahli patologi Tulane National Primate Research Center, Covington, Louisiana yang meneliti virus yang serupa pada monyet mengatakan bahwa HIV menginfeksi kedua tipe sel tersebut secara simultan, CD4 + sel T dan sel-sel Langerhans cells.

Penemuan bahwa virus menginfeksi sel-sel T dan sel-sel Langerhans dapat digunakan untuk menentukan mikrobisida untuk melindungi wanita dari infeksi HIV. Mikrobisida biasanya berbentuk krem atau gel untuk memblok serangan HIV pada tubuh wanita. Akan tetapi, sejauh ini tiga jenis mikrobisida yang dicoba pada wanita berakhir dengan kegagalan. Salah satu produk, dinamakan Savvy, gagal melindungi wanita dari virus. Dua produk lainnya malah meningkatkan resiko infeksi virus pada wanita. Dari hasil trsebut, salah satu produk, Ushercell, telah ditarik dan tidak digunakan lagi dalam percobaan sejak 31 Januari 2007. Para ilmuwan saat ini terus mengupayakan pengembangan suatu mikrobisida untuk memblok infeksi virus pada sel T.

Sumber: Nature

Jumat, 20 Agustus 2010

Mitos tentang HIV/AIDS

Apakah gigitan nyamuk membawa risiko terinfeksi HIV?

HIV tidak menyebar melalui gigitan nyamuk atau gigitan serangga lainnya. Bahkan bila virus masuk ke dalam tubuh nyamuk atau serangga yang menggigit atau mengisap darah, virus tersebut tidak dapat mereproduksi dirinya dalam tubuh serangga. Karena serangga tidak dapat terinfeksi HIV, serangga tidak dapat menularkannya ke tubuh manusia yang digigitnya.



Apakah saya harus khawatir tertular HIV saat melakukan kegiatan olah raga?

Tidak terdapat bukti bahwa HIV dapat ditularkan ketika seseorang melakukan olah raga. Bisakah saya terkena HIV dari bersentuhan secara biasa? (berjabat tangan, berpelukan, menggunakan toilet, minum dari gelas yang juga digunakan oleh seseorang yang terkena HIV, atau berada berdekatan dengan seseorang yang terinfeksi yang sedang bersin atau batuk)? HIV tidak ditularkan oleh kontak sehari-hari dalam kegiatan sosial, di sekolah, ataupun di tempat kerja. Anda tidak dapat terinfeksi lantaran anda berjabat tangan, berpelukan, menggunakan toilet yang sama atau minum dari gelas yang sama dengan seseorang yang terinfeksi HIV, atau terpapar batuk atau bersin penyandang infeksi HIV.

Apakah HIV hanya menjangkiti kaum homoseksual dan pengguna narkoba saja?

Tidak. Setiap orang yang melakukan hubungan seks yang tak terlindungi, berbagi penggunaan alat suntikan, atau diberi transfusi dengan darah yang terkontaminasi dapat terinfeksi HIV. Bayi dapat terinfeksi HIV dari ibunya selama masa kehamilan, selama proses persalinan, atau setelah kelahiran melalui pemberian air susu ibu. Sebanyak 90% kasus HIV merupakan akibat dari penularan seksual dan 60-70%kasus HIV terjadi di kalangan heteroseksual.

Apakah kita dapat mengetahui bahwa seseorang terkena HIV hanya dengan melihat dari penampilannya?

Kita tidak dapat mengetahui bahwa seseorang menyandang HIV atau AIDS hanya dengan melihat penampilan mereka. Seseorang yang terinfeksi HIV bisa saja nampak sehat dan merasa baik-baik saja, namun mereka tetap dapat menularkan virus itu ke anda. Tes darah merupakan satu-satunya cara untuk mengetahui apakah seseorang terinfeksi HIV atau tidak.

Bisakah saya terjangkit lebih dari satu infeksi menular seksual (IMS) pada saat yang bersamaan?

Ya. Anda dapat terkena lebih dari satu infeksi penyakit menular (IMS) pada saat yang bersamaan. Masing-masing infeksi memerlukan pengobatannya sendiri. Anda tidak dapat menjadi kebal terhadap IMS. Anda juga dapat terkena infeksi yang sama berkali-kali. Banyak pria dan wanita yang tidak merasa atau melihat gejala awal apapun ketika mereka pertama kali terinfeksi dengan IMS, kendatipun mereka masih bisa menulari pasangan seksualnya.

Ketika seseorang sedang menjalani terapi antiretroviral, dapatkan dia menularkan HIV kepada orang lain?

Terapi antiretroviral tidak dapat mencegah penularan virus ke orang lain. Terapi dapat membantu menurunkan jumlah virus ke tingkat yang tidak terdeteksi, namun HIV masih tetap ada dalam tubuh, dan dapat ditularkan ke orang lain melalui hubungan seksual, dengan bergantian memakai peralatan suntikan, atau melalui ibu yang menyusui bayinya.

Senin, 16 Agustus 2010

Adakah Obat Untuk HIV/AIDS

AIDS merupakan penyakit yang paling ditakuti pada saat ini. HIV, virus yang menyebabkan penyakit ini, merusak sistem pertahanan tubuh (sistem imun), sehingga orang-orang yang menderita penyakit ini kemampuan untuk mempertahankan dirinya dari serangan penyakit menjadi berkurang. Seseorang yang positif mengidap HIV, belum tentu mengidap AIDS.


Karena ganasnya penyakit ini, maka berbagai usaha dilakukan untuk mengembangkan obat-obatan yang dapat mengatasinya. Pengobatan yang berkembang saat ini, targetnya adalah enzim-enzim yang dihasilkan oleh HIV dan diperlukan oleh virus tersebut untuk berkembang. Enzim-enzim ini dihambat dengan menggunakan inhibitor yang nantinya akan menghambat kerja enzim-enzim tersebut dan pada akhirnya akan menghambat pertumbuhan virus HIV.
HIV merupakan suatu virus yang material genetiknya adalah RNA (asam ribonukleat) yang dibungkus oleh suatu matriks yang sebagian besar terdiri atas protein. Untuk tumbuh, materi genetik ini perlu diubah menjadi DNA (asam deoksiribonukleat), diintegrasikan ke dalam DNA inang, dan selanjutnya mengalami proses yang akhirnya akan menghasilkan protein. Protein-protein yang dihasilkan kemudian akan membentuk virus-virus baru.

Obat-obatan yang telah ditemukan pada saat ini menghambat pengubahan RNA menjadi DNA dan menghambat pembentukan protein-protein aktif. Enzim yang membantu pengubahan RNA menjadi DNA disebut reverse transcriptase, sedangkan yang membantu pembentukan protein-protein aktif disebut protease.

Untuk dapat membentuk protein yang aktif, informasi genetik yang tersimpan pada RNA virus harus diubah terlebih dahulu menjadi DNA. Reverse transcriptase membantu proses pengubahan RNA menjadi DNA. Jika proses pembentukan DNA dihambat, maka proses pembentukan protein juga menjadi terhambat. Oleh karena itu, pembentukan virus-virus yang baru menjadi berjalan dengan lambat. Jadi, penggunaan obat-obatan penghambat enzim reverse transcriptase tidak secara tuntas menghancurkan virus yang terdapat di dalam tubuh. Penggunaan obat-obatan jenis ini hanya menghambat proses pembentukan virus baru, dan proses penghambatan ini pun tidak dapat menghentikan proses pembentukan virus baru secara total.

Obat-obatan lain yang sekarang ini juga banyak berkembang adalah penggunaan penghambat enzim protease. Dari DNA yang berasal dari RNA virus, akan dibentuk protein-protein yang nantinya akan berperan dalam proses pembentukan partikel virus yang baru. Pada mulanya, protein-protein yang dibentuk berada dalam bentuk yang tidak aktif. Untuk mengaktifkannya, maka protein-protein yang dihasilkan harus dipotong pada tempat-tempat tertentu. Di sinilah peranan protease. Protease akan memotong protein pada tempat tertentu dari suatu protein yang terbentuk dari DNA, dan akhirnya akan menghasilkan protein yang nantinya akan dapat membentuk protein penyusun matriks virus (protein struktural) ataupun protein fungsional yang berperan sebagai enzim.

Menurut Flexner (1998), pada saat ini telah dikenal empat inhibitor protease yang digunakan pada terapi pasien yang terinfeksi oleh virus HIV, yaitu indinavir, nelfinavir, ritonavir dan saquinavir. Satu inhibitor lainnya masih dalam proses penelitian, yaitu amprenavir. Inhibitor protease yang telah umum digunakan, memiliki efek samping yang perlu dipertimbangkan. Semua inhibitor protease yang telah disetujui memiliki efek samping gastrointestinal. Hiperlipidemia, intoleransi glukosa dan distribusi lemak abnormal dapat juga terjadi.

Pembelajaran Berdiferensiasi

  Pembelajaran Berdiferensiasi adalah usaha guru untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu m...