Minggu, 23 Agustus 2015

Prospek Sekolah Inklusi Sebagai Sekolah Masa Depan



Sekolah inklusi adalah sekolah yang menggabungkan layanan pendidikan khusus dan regular dalam satu sistem persekolahan, dimana siswa berkebutuhan khusus mendapatkan pendidikan khusus sesuai dengan potensinya masing-masing dan siswa regular mendapatkan layanan khusus untuk mengembangkan potensi mereka sehingga baik siswa yang berkebutuhan khusus ataupun siswa regular dapat bersama-sama mengembangkan potensi masing-masing dan mampu hidup eksis dan harmonis dalam masyarakat. 

Dalam sekolah inklusi ada kurikulum individual yaitu kurikulum khusus individu tertentu sehingga dengan metode seperti ini, sistem kurikulum mencoba mengembangkan anak sesuai dengan bakat yang dimilikinya. Tujuannya adalah membimbing anak untuk sukses dalam kehidupan masyarakat dengan bakat yang mereka miliki. Walaupun sekolah inklusi memiliki kurikulum individual bukan berarti kurikulum nasional diabaikan. Kurikulum individual itu sebagai pelengkap atau penyempurna kurikulum nasional sehingga perserta didik mampu lebih mengoptimalkan potensinya.


Sebelum sekolah inklusi berkembang, di Indonesia berkembang model sekolah Segregasi dan Integratif. Sekolah Segregasi yaitu sekolah yang menempatkan anak-anak berkebutuhan khusus (tunanetra, tunarungu, tunadaksa, tunagrahita) ditempatkan sekolah khusus semacam sekolah luar biasa (SLB). Sedangkan sekolah integratif adalah sekolah yang memiliki kurikulum standar dan menghendaki setiap siswa untuk menempuh kurikulum tersebut. Biasanya yang dapat bersekolah di sekolah ini adalah siswa-siswa yang memiliki fisik dan mental yang normal. Sekolah model integratif ini adalah sekolah-sekolah yang banyak diketahui oleh masyarakat pada umumnya.


Sekolah Segregasi memang dirancang baik kurikulum maupun sarana prasarana untuk anak special need. Tetapi dalam kehidupan mereka kelak, mereka akan berbaur dan berinteraksi dengan masyarakat. Hal ini membuat mereka sukar beradaptasi karena keluar dari lingkaran kenyamanan komunitas special need masuk dalam lingkungan yang baru yaitu masyarakat. Hal ini akan menjadi masalah ketika dua komunitas tersebut berbaur dalam masyarakat. Sekolah integratif yang pada umumnya terdiri dari siswa-siswa regular akan terasa asing dengan kehadiran special need, hal ini disebabkan karena mereka belum mengenal, mengetahui, dan memahami tentang special need. Untuk membiasakan anak-anak special need supaya mampu berinteraksi dalam masyarakat dan mampu hidup eksis dalam masyarakat dan bagi siswa regular tercipta pengetahuan, pemahaman serta peran aktif dalam berinteraksi dengan special need maka perlu adanya sebuah sistem sekolah yang memepertemukan mereka dalam satu sistem sekolah yaitu sekolah inklusi.


Sekolah inklusi pada dasarnya bertujuan merangkul semua siswa berbagai latar belakang dan kondisi dalam satu sistem sekolah dan mencoba untuk menemukan dan mengembangkan potensi siswa yang majemuk tersebut. Dalam mengembangkan potensi siswa tidak hanya diterapkan kepada siswa special need tetapi juga siswa yang lain yang bukan special need. Pada dasarnya setipa siswa memiliki potensi, Cuma kadang yang menajdi masalah adalah sekolah kurang jeli melihat potensi tiap-tiap siswa dan tidak ada progam individual untuk mengembangkan potensi masing-masing siswa tersebut. Dalam multiple intelligences oleh Howard Gardner di jelaskan bahwa kecerdasan/potensi seseorang tidak bertumpu pada kecerdasan intelektual saja, tetapi ada banyak kecerdasan yang lain, misalnya kecerdasan logis matematis yaitu berpikir dengan penalaran, mendudukan masalah secara logis, ilmiah dan kemampuan matematik. Ada kecerdasan linguistik verbal yaitu kemahiran dalam berbahasa untuk berbicara, menulis, membaca, menghubungkan dan menafsirkan. Ada juga kecerdasan musikal ritmik misalnya menyanyi, irama, melodi dan alat musik. Ada kecerdasan interpersonal yaitu keterampilan manusia dalam berinteraksi dan berkomunikasi dengan manusia lain, mislanya dalam organisasi, memimpin, berpidato, bersosialisasi. Seseorang yang pandai menari, berolah raga, bermain drama merupakan seseorang yang memiliki kecerdasan kinestetik. Ada juga seseorang yang memiliki kecerdasan spacial visual misalnya seorang desainer, illustrator, peluksi. Selain itu ada juga kecerdasan naturalis dan intrapersonal. Setiap manusia pasti memiliki kedelapan kecerdasan diatas walaupun kuat disatu sisi dan lemah disisi lain.


Sekolah-sekolah di Indonesia pada umumnya terlalu fokus pada kecerdasan intelektual saja, sehingga kecerdasan yang lain kurang begitu ditangani apalagi dikembangkan. Disinilah peran sekolah inklusi di masa depan sebagai sekolah yang mampu menemukan dan mengembangkan potensi-potensi siswa baik siswa special need ataupun siswa reguler sehingga menjadi siswa yang sepcialis dan berkembang sesuai dengan bakat dan potensinya. Kelak, generasi tersebut akan menjadi generasi yang ahli, harmonis dan memberi manfaat bagi diri sendiri, masyarakat dan bangsa



Sumber : http://www.kompasiana.com/randyaw/prospek-sekolah-inklusi-sebagai-sekolah-masa-depan_550dd57ba33311a52dba7d5f
Kemendikbud Ajak Sekolah Budayakan Hidup Bersih dan Sehat



Depok, Kemendikbud --- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Lomba Sekolah Sehat (LSS) yang telah dilaksanakan sejak tahun 1991, mengajak seluruh sekolah di Indonesia untuk menanamkan budaya hidup bersih dan sehat kepada peserta didik dimulai dari lingkungan sekolah. Penanaman pola hidup bersih dan sehat ini juga didukung dengan diterbitkannya Surat Keputusan Bersama Nomor 1/U/SKB/2003, tentang Pembinaan dan Pengembangan Usaha Kesehatan Sekolah.

Surat Keputusan Bersama tersebut ditandatangani pada tahun 2003, oleh Menteri Pendidikan Nasional, Menteri Kesehatan, Menteri Agama, dan Menteri Dalam Negeri. “Implementasi sekolah bersih dan sehat ini kita wujudkan melalui LSS, dan diharapkan melalui lomba ini pun dapat menjadi wahana sosialisasi dan mengajak seluruh sekolah untuk membudayakan perilaku sehat dan bersih,” disampaikan Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Hamid Muhammad pada acara pemberian penghargaan Lomba Sekolah Sehat, di Depok, Jawa Barat, Minggu (16/08/2015).

Hamid mengatakan, jika LSS dapat dimaksimalkan sebagai wahana sosialisasi budaya hidup bersih dan sehat di sekolah, ia meyakini akan berdampak yang luar biasa. “Saya melihat sampai sekarang pun masih ada sekolah yang belum menunjukan budaya hidup sehat melalui lingkungan sekolah yang bersih. Saya tidak akan pernah bosan menyampaikan pesan betapa pentingnya sekolah bersih dan sehat,” ujar Hamid.

Pembudayaan hidup bersih dan sehat di sekolah, kata Hamid, merupakan bagian dari penumbuhan nilai-nilai budi pekerti luhur. Ia pun mengajak kepada seluruh sekolah untuk mulai mengaktifkan kembali kelompok piket siswa untuk membersihkan ruang kelas. “Dengan membiasakan anak menjaga kebersihan yang dimulai dari sekolah, ini dampaknya akan luar biasa hingga anak tersebut dewasa. Ia akan selalu menjaga lingkungan sekitarnya tetap bersih dan sehat,” jelas Hamid.

Selain lingkungan kelas dan halaman sekolah, tutur Hamid, juga menjadi perhatian penting adalah kebersihan toilet sekolah. Ia menuturkan beberapa sekolah masih terlihat belum memberikan perhatian terhadap kebersihan toilet. “Oleh sebab itu konsep ke depan kita akan menerapkan toilet guru didekatkan dengan toilet siswa, karena selama ini yang selalu bersih adalah toilet guru saja. Dengan berdekatannya toilet guru dan siswa diharapkan guru turut memantau kebersihan toilet siswa,” kata Hamid. (Seno Hartono)  

http://www.kemdiknas.go.id/kemdikbud/berita/4506

Rabu, 22 Juli 2015



Jakarta, Kemendikbud --- Jelang memasuki tahun ajaran baru 2015/2016,  dalam Nawacita diamanatkan penerapan Wajib Belajar (Wajar) 12 tahun. Merujuk pada Nawacita tersebut, penerapan Wajib Belajar 12 tahun sudah harus dimulai di semua sekolah di jenjang dengan pendidikan menengah. Demikian disampaikan Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Hamid Muhammad dalam rapat koordinasi dengan kepala dinas pendidikan se-Indonesia di Kantor Kemendikbud Jakarta, Jumat (10/07/2015). “Arahan khusus Presiden Joko Widodo yang eksplisit tersebut harus kita tindaklanjuti,” ucapnya.

Amanah Wajib Belajar 12 tahun, kata Hamid, tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2015-2019, bertujuan untuk memberikan layanan, perluasan, dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara Indonesia usia sampai dengan 21 tahun sampai dengan jenjang pendidikan menengah .

“Untuk mewujudkan wajib belajar 12 tahun tersebut, pemerintah akan melakukan intervensi dengan target Angka Partisipasi Kasar (APK) tahun 2020 sebesar 93,6 persen,” jelas Hamid. Hamid menambahkan, untuk mendukung intervensi terhadap wajib belajar tersebut perlu adanya peningkatan mutu pendidikan, sebagai upaya mewujudkan Wajib Belajar 12 tahun yang berkualitas. “Menjaga mutu wajib belajar ini nanti yang akan mengawal adalah Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP),” ujarnya.

Upaya lain dilakukan pemerintah untuk mewujudkan Wajib Belajar 12, jelas Hami. Pemerintah akan melakukan pembangunan gedung sekolah menengah,  sekitar 900 unit sekolah baru. Unit sekolah baru tersebut terdiri dari 450 untuk pendirian SMA, dan 450 SMK. Diharapkan dinas pendidikan provinsi mulai dari sekarang sudah harus memetakan daerah mana saja yang akan kita bangun SMA dan SMK di setiap kabupaten/kota. Hal ini sebagai upaya menjagkau anak-anak kita yang belum terlayani,” pungkas Hamid. (Seno Hartono)


Sumber : http://kemdikbud.go.id/kemdikbud/berita/4366

Jakarta, Kemendikbud --- Bersamaan dengan dimulainya tahun pelajaran 2015/2016, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mencanangkan “Gerakan Penumbuhan Budi Pekerti” melalui serangkaian kegiatan non kurikuler. Kegiatan-kegiatan ini dilakukan dalam kegiatan harian dan periodik wajib maupun pilihan untuk menumbuhkembangkan nilai-nilai dan karakter positif. 
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan mengatakan, ketika orangtua mengantarkan anaknya ke sekolah, maka saat itu pula terjadi penyerahan kepercayaan kepada guru dan sekolah untuk mendidik anaknya. Dan bagi sekolah, pendidikan juga bukan sekadar statistik semata. “Akan kita siapkan sekolah untuk juga menyambut orangtua,” kata Mendikbud beberapa waktu lalu, di Jakarta.
Budi pekerti luhur yang diharapkan dapat tumbuh lewat gerakan ini mencakup beberapa hal, di antaranya: internalisasi nilai moral dan spiritual dalam kehidupan, rasa kebangsaan dan cinta tanah air, interaksi positif antara peserta didik dengan guru dan orangtua, juga interaksi positif antar siswa. Selain itu, diharapkan pula tumbuhnya pengembangan potensi utuh siswa, pemeliharaan lingkungan sekolah yang mendukung iklim pembelajaran, dan pelibatan orangtua dan masyarakat.

Alur pembudayaan yang dilakukan dalam gerakan penumbuhan budi pekerti dimulai dengan diajarkan. Contoh kasus: hidup bersih. Siswa diajarkan tentang cara hidup bersih dan bahaya hidup kotor. Setelah diajarkan, mereka dibiasakan untuk membersihkan yang kotor dan membuang sampah pada tempatnya. Pembiasaan ini membutuhkan komitmen, sehingga anak dilatih untuk konsisten. Mereka diarahkan bila tidak mengerjakan, dan ditegur jika dilanggar.
Setelah menjadi kebiasaan, tanpa disadari anak-anak akan membersihkan dan membuang sampah pada tempatnya. Karena terbiasa bersih, mereka akan tidak nyaman melihat jika ada sampah yang tidak pada tempatnya. Saat itulah terbentuk karakter bersih yang berujung pada masyarakat yang berbudaya hidup bersih.

Berbagai kegiatan yang dapat dilakukan dalam mendukung gerakan ini di sekolah dapat dimulai sejak sebelum memulai pembelajaran. Salah satu contohnya adalah membaca buku non-pelajaran sekitar 15 menit sebelum jam pelajaran dimulai. Ketika pelajaran dimulai, diawali dengan berdoa yang dipimpin oleh siswa di bawah bimbingan guru. Juga, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan/atau satu lagu wajib nasional atau lagu terkini yang menggambarkan semangat cinta tanah air. Demikian pula ketika mengakhiri pembelajaran, peserta didik diajak untuk menyanyikan satu lagu daerah (dari seluruh nusantara), dan berdoa dipimpin bergantian oleh siswa di bawah bimbingan guru.

Selain kegiatan harian seperti disebutkan di atas, penumbuhan budi pekerti juga dilakukan dalam rutinitas mingguan sekolah. Misalnya, upacara bendera tiap hari Senin dan olah raga bersama seluruh warga sekolah minimal seminggu sekali. Ada pula pembiasaan baik yang dapat dilakukan yaitu dengan membuat jadwal piket membersihkan kelas dan lingkungan sekolah secara bergantian.
Penumbuhan budi pekerti juga perlu didukung dengan pelibatan orangtua dan lingkungan masyarakat. Untuk itu perlu pertemuan wali kelas dan orangtua siswa untuk menjelaskan visi, misi, dan aturan sekolah serta tahapan belajar siswa. Siswa juga dapat dibiasakan belajar kelompok baik di sekolah maupun di rumah dengan sepengetahuan guru dan orangtua. 
Pembiasaan baik di masyarakat pun dapat dilakukan siswa dengan terlibat dalam memecahkan masalah nyata di lingkungan serta. Masyarakat dari berbagai profesi pun dapat berpartisipasi dengan berbagi ilmu dan pengalaman kepada siswa di sekolah.

http://www.kemdikbud.go.id/kemdikbud/berita/4382

Sabtu, 23 Mei 2015

Makassar, Kemendikbud --- Sekolah merupakan tempat terjadinya proses belajar mengajar. Dalam proses belajar mengajar ini, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan mengajak kepada seluruh lembaga pendidikan untuk menjadikan sekolah sebagai tempat yang menyenangkan. Hal tersebut seperti yang dituliskan oleh Bapak Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara, dalam konsep yang telah dibuat untuk menjadikan sekolah sebagai taman.  
"Taman ini adalah tempat yang menyenangkan. Untuk itu, inilah yang diharapkan menjadikan sekolah sebagai tempat belajar yang menyenangkan," demikian disampaikan Mendikbud pada acara bincang-bincang bersama Ikatan Guru Indonesia (IGI) dan Media Massa wilayah Sulawesi Selatan, di Kota Makassar, Sabtu (16/05/2015).  
Konsep sekolah menyenangkan ini, kata Mendikbud, dimulai dari peran guru dan kepala sekolah. Dengan begitu, konsep sekolah menyenangkan tidak boleh diasosiasikan dengan tempat pembelajaran yang mewah dan mahal. Suasana menyenangkan dapat muncul ketika seorang pendidik dapat membawakan suasana belajar yang tidak menegangkan, dan menerapkan berbagai pola pembelajaran yang menyenangkan.  
"Jika guru dan kepala sekolahnya tidak menyenangkan, jangan harap sekolah bisa menjadi tempat belajar yang menyenangkan. Untuk itu mari kita lakukan hal yang berbeda," ajak Mendikbud.  
Pendidik dapat menanyakan kepada siswa, pola pembelajaran seperti apa yang diharapkan. Dengan adanya keterlibatan siswa ini, Mendikbud mengatakan, suasana pembelajaran di sekolah akan lebih kondusif. Bila siswa merasakan nyaman dalam proses belajar di sekolah, Mendikbud meyakini prestasi para siswa tersebut akan lebih meningkat.  
"Tidak boleh terlupakan, selain sekolah juga sebagai tempat belajar yang menyenangkan, juga sekolah harus dapat menunjukan sebagai tempat belajar yang berintegritas. Guru dan kepala sekolah dapat menjadi teladan bagi para siswa," pesan Mendikbud. (Seno Hartono)

Sumber : http://www.kemdiknas.go.id/kemdikbud/berita/4196